Hipertiroid atau hipertiroidisme
merupakan kondisi saat kadar hormon tiroksin dalam tubuh begitu tinggi. Hormon
tiroksin dihasikan oleh kelenjar tiroid. Kelenjar ini terletak pada leher
bagian depan. Hormon tiroksin berfungsi mengatur metabolisme. Gangguan pada
produksi hormon otomatis membuat metabolisme tubuh terganggu.
Hipertiroid dapat disebabkan oleh
beragam kondisi. Dilansir dari berbagai sumber, ia dapat disebabkan oleh
penyakit graves atau penyakit autoimun. Tubuh membuat antibodi yang disebut
thyroid-stimulating immunoglobulin (TSI). Antibodi membuat kelenjar tiroid
terlalu aktif dan produksi hormon terlalu banyak.
Penyebab kedua ialah Tiroiditis
atau peradangan pada kelenjar tiroid akibat infeksi bakteri, virus atau
produksi antibodi yang menyerang kelenjar tiroid. Kerusakan kelenjar berakibat
pada kebocoran hormon tiroid.
Selain itu, hipertiroid dapat
disebabkan oleh kemunculan gumpalan yang terbentuk pada kelenjar tiroid, efek
samping obat, kanker tiroid, kehamilan, tumor adenoma pada kelenjar hipofisis
atau kelenjar yang terletak di dasar otak.
Hipertiroidisme lebih cenderung
terjadi pada wanita. Kondisi ini bisa muncul pada usia berapapun, termasuk
ketika masih anak-anak. Tapi biasanya muncul ketika memasuki usia 20-40 tahun.
Penyebab Hipertiroidisme
Kelenjar tiroid memproduksi dua
jenis hormon, yaitu triiodotiroin (T3) dan tiroksin (T4). Setiap hormon
berfungsi untuk mengatur sel dan cara kerja tubuh. Umumnya, kelenjar tiroid
akan memproduksi hormon dalam jumlah yang tepat. Namun dalam kondisi tertentu,
produksi hormon dapat dilakukan secara berlebih, terutama tiroksin (T4).
Banyaknya hormon tiroksin yang
diproduksi kelenjar tiroid dalam tubuh bisa disebabkan oleh berbagai hal,
seperti penyakit Graves, obat amiodaron, suplemen iodine, nodul tiroid, kanker
tiroid, tiroiditis, kehamilan atau tumor adenoma hiposisis. Berikut ini adalah
penjelasan dari masing-masing kondisi yang dapat menyebabkan kelenjar tiroid
menjadi sangat aktif memproduksi hormon tiroksin:
Penyakit Graves
Hipertiroidisme kebanyakan
disebabkan oleh penyakit Graves, yaitu suatu kondisi yang terjadi akibat
kelainan sistem autoimun yang menyerang tubuh dan meningkatkan produksi hormon
tiroksin pada kelenjar tiroid. Penyakit Graves bisa muncul pada usia berapa
pun, terutama pada wanita usia 20-40 tahun. Belum diketahui kondisi apa yang
menyebabkan kelainan autoimun terjadi, tetapi faktor lingkungan dan keturunan
dianggap berperan pada kemunculan kelainan ini. Selain hipertiroidisme,
penyakit Graves juga dapat mengakibatkan penglihatan menjadi tidak nyaman dan
kabur. Hal tersebut ditandai dengan bola mata yang terlihat menonjol keluar.
Tiroiditis
Tiroiditis adalah peradangan pada
kelenjar tiroid yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, atau saat tubuh
memproduksi antibodi yang dapat merusak kelenjar tiroid. Kerusakan ini dapat
menyebabkan kebocoran hormon tiroksin yang pada akhirnya menyebabkan
hipertiroidisme.
Nodul tiroid
Nodul tiroid adalah gumpalan yang
terbentuk di dalam kelenjar tiroid tanpa sebab yang jelas. Meski bersifat jinak
dan tidak menyebabkan kanker, nodul bisa mengandung jaringan tiroid yang
abnormal.Gumpalan ini berdampak kepada peningkatan produksi tiroksin dalam
tubuh dan berakibat pada hipertiroidisme, khususnya pada penderita berusia
diatas 60 tahun.
Efek samping obat
Untuk memproduksi hormon
tiroksin, kelenjar tiroid membutuhkan iodine yang terkandung di dalam makanan.
Hormon tiroksin akan menjadi terlalu banyak dan
akhirnya menyebabkan hipertiroidisme jika seseorang mengonsumsi suplemen
iodine atau obat yang mengandung zat tersebut (contohnya amiodarone).
Amiodarone merupakan obat yang digunakan untuk mengatasi detak jantung yang
tidak beraturan (aritmia). Umumnya, hipertiroidisme akan membaik saat
pengobatan dihentikan. Namun, proses penurunan kadar hormon akan memakan waktu
beberapa bulan.
Kanker tiroid
Kanker tiroid tergolong sangat
langka. Jika sel-sel yang mengalami keganasan mulai menghasilkan banyak hormon
tiroksin, maka penderitanya bisa mengalami hipertiroidisme. Kondisi ini umumnya
menyerang penderita berusia 30 tahun ke atas dan dapat dipulihkan.
Kehamilan
Saat hamil, wanita mengalami
peningkatan kadar hormon human chorionic gonadotropin (hCG). Hormon ini dapat
memicu terjadinya hipertiroidisme, khususnya pada kehamilan kembar dan pada
kasus hamil anggur, di mana terdapat kadar hCG yang tinggi.
Tumor adenoma pada kelenjar
hipofisis
Ini merupakan tumor jinak yang
tumbuh pada kelenjar hipofisis atau pitutary, yaitu kelenjar yang terletak di
dasar otak. Tumor tersebut dapat mempengaruhi tingkat produksi hormon tiroid.
Selain jenis kelamin dan
keturunan, terdapat faktor lain yang bisa meningkatkan risiko seseorang
mengalami hipertiroidisme. Seseorang yang memiliki penyakit autoimun, seperti
diabetes tipe 1 dan penyakit Addison, lebih berisiko terkena kondisi ini.
Perokok juga akan berisiko menderita penyakit Graves yang secara tidak langsung
meningkatkan risiko terjadinya hipertiroidisme.
Diagnosis Hipertiroidisme
Untuk memastikan diagnosis
terhadap hipertiroidisme Berikut ini adalah beberapa pemeriksaan yang mungkin
dilakukan:
Pemeriksaan fungsi tiroid
Pemeriksaan fungsi tiroid adalah
pemeriksaan darah yang dilakukan untuk mengetahui kadar thyroid-stimulating
hormone/TSH (hormon yang merangsang kelenjar tiroid) dan kadar hormon-hormon
yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid, yaitu triiodotironin (T3) dan tiroksin
(T4).
Fungsi hormon perangsang kelenjar
tiroid atau TSH adalah mengendalikan produksi tiroksin dan triiodotironin. Pada
penderita hipertiroidisme, kadar TSH umumnya rendah, sedangkan kadar tiroksin
dan triiodotironin menjadi tinggi.
Terkadang, hasil pemeriksaan ini
memperlihatkan kadar TSH yang rendah, namun kadar hormon yang dihasilkan oleh
kelenjar tiroid tetap normal. Kondisi tersebut dikenal dengan istilah
hipertiroidisme subklinis. Kondisi ini tidak selalu ditandai gejala dan perlu
terus dimonitor untuk menghindari risiko penyakit tulang atau jantung.
Hipertiroidisme subklinis biasanya pulih dengan sendirinya dalam waktu sekitar
dua bulan. Meskipun tidak memerlukan pengobatan, penderita hipertiroidisme
subklinis tetap harus melakukan pemeriksaan fungsi tiroid secara rutin, untuk
memantau kondisinya.
Selain pemeriksaan fungsi tiroid,
pemeriksaan laju endap darah (LED) juga biasa dilakukan untuk memeriksa
seberapa cepat sel darah merah mengendap di dasar tabung uji. Jika sel darah
merah mengendap dengan cepat, maka ada kemungkinan terdapat peradangan pada
kelenjar tiroid.
Jika diperlukan, pemeriksaan
pendukung seperti pengecekan kadar trigliserida dan kolestrol juga dapat
dilakukan.
Pencitraan tiroid isotop (thyroid scan)
Pemeriksaan lanjutan akan dilakukan
setelah pasien dipastikan menderita hipertiroidisme. Pemeriksaan ini bertujuan
untuk mengetahui kondisi apa yang mendasari terjadinya hipertiroidisme. Dalam
pencitraan thyroid scan, pasien diminta untuk menelan suatu bahan yang
mengandung zat radioaktif, dengan intensitas sangat rendah, sehingga tidak
membahayakan tubuh. Yang paling umum digunakan adalah radioactive iodine.
Setelah itu, dilakukan pemindaian untuk mengetahui berapa banyak isotop
radiaktif yang diserap oleh kelenjar tiroid, selain juga untuk melihat bentuk
kelenjar.
Jika isotop yang diserap oleh
kelenjar tiroid cukup rendah, maka kondisi yang mungkin mendasari
hipertioidisme adalah tiroiditis (peradangan kelenjar tiroid), asupan yodium
yang tinggi, atau kanker tiroid. Tapi jika kelenjar tiroid menyerap banyak
isotop, kemungkinan besar penyebab hipertiroidisme adalah nodul tiroid atau
penyakit Graves.
Pemindaian
Jika diperlukan, dapat dilakukan
pemindaian seperti CT scan, MRI, dan USG, untuk mengetahui ukuran dan ketebalan
kelenjar tiroid, serta risiko tumor.
Pengobatan Hipertiroidisme
Pengobatan yang diberikan
terhadap penderita hipertiroidisme bergantung pada faktor usia, gejala yang
dialami, dan kadar hormon yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid dalam darah.
Di bawah ini adalah jenis-jenis
pengobatan yang biasanya disarankan untuk mengatasi hipertiroidisme, di
antaranya:
Thionamide
Thionamide adalah kelompok
obat-obatan yang digunakan untuk menekan produksi hormon tiroksin dan
triiodotironin. Contoh obat-obatan thionamide adalah carbimazole dan
propylthiouracil. Obat ini perlu dikonsumsi sekitar 1-2 bulan agar bisa dilihat
efektivitasnya terhadap hipertiroidisme.
Dosis thionamide akan diturunkan
secara perlahan setelah produksi hormon oleh kelenjar tiroid mulai terkendali.
Efek samping yang mungkin terjadi meliputi pusing, mual, sakit persendian,
nyeri perut dan ruam kulit yang gatal. Risiko mengalami hipotiroidisme
(kelenjar tiroid yang kurang aktif) akibat pengobatan ini lebih kecil
dibandingkan radioterapi. Pastikan untuk rutin memonitor kadar sel darah putih
selama mengonsumsi obat-obatan ini.
Radioterapi
Radioiodine adalah sejenis
prosedur radioterapi untuk mengobati hipertiroidisme. Hormon yang dihasilkan
kelenjar tiroid akan berkurang ketika radioactive iodine (dalam tingkat rendah
dan tidak berbahaya) menyusutkan kelenjar tiroid. Pengobatan radioiodine dapat
berbentuk cair atau kapsul. Pengobatan dengan bahan radioaktif ini tidak
dianjurkan bagi:
Wanita yang hamil, menyusui, atau
merencanakan kehamilan.
Orang yang mengalami gangguan
mata, seperti pandangan kabur dan bola mata yang menonjol.
Setelah menjalani pengobatan
radioiodine, seorang wanita tidak boleh hamil setidaknya enam bulan setelah
pengobatan berakhir. Dan untuk pria, tidak boleh menghamili wanita setidaknya
empat bulan setelah pengobatan radioiodine. Hindari juga kontak dengan wanita
hamil atau anak-anak saat minggu awal pengobatan untuk menghindari penularan
paparan radiasi.
Keuntungan dari pengobatan dengan
radioiodine adalah tingkat keberhasilannya yang sangat tinggi. Sedangkan
kekurangannya adalah risiko terjadinya hipotiroidisme (kelenjar tiroid yang
kurang aktif) yang ditandai dengan gejala mulut atau mata kering, sakit
tenggorokan, dan perubahan rasa di mulut. Disarankan untuk menggunakan obat ini
dalam jangka waktu pendek untuk mengurangi bahaya paparan radiasi.
Beta-blocker
Beta-blocker atau penghambat beta
adalah obat yang digunakan untuk mengatasi gejala yang muncul akibat
hipertiroidisme, seperti hiperaktif, detak jantung cepat, dan tremor. Obat ini
tidak boleh dikonsumsi oleh penderita asma. Beta-blocker diberikan setelah
produksi hormon kelenjar tiroid bisa dikendalikan dengan thionamide. Efek
samping yang paling umum akibat obat ini adalah mual, nyeri perut, konstipasi,
diare, pusing, kaki dan tangan menggigil, insomnia, dan selalu merasa lelah.
Operasi tiroid
Operasi pengangkatan kelenjar
tiroid atau tiroidektomi bisa bersifat parsial atau total. Disebut parsial jika
hanya sebagian jaringan kelenjar yang diangkat, dan total jika seluruhnya
diangkat. Berikut ini adalah beberapa alasan perlu dilakukannya prosedur
operasi pengangkatan kelenjar tiroid, yaitu Jika hipertiroidisme muncul kembali
setelah sebelumnya menjalani penanganan dengan thionamide.
Terjadi pembengkakan yang cukup
parah pada kelenjar tiroid.
Tidak bisa dilakukan pengobatan
radioiodine karena sedang hamil atau menyusui, serta tidak bisa dan/atau tidak
mau melewati prosedur pengobatan dengan thionamide.
Pasien menderita gejala mata yang
parah akibat penyakit Graves.
Untuk menghilangkan kemungkinan
kambuh atau muncul kembali, disarankan untuk mengangkat seluruh kelenjar tiroid
yang ada. Mereka yang menjalani operasi tiroidektomi total diharuskan
mengonsumsi obat-obatan seumur hidup untuk mengatasi hilangnya fungsi kelenjar
tiroid di dalam tubuh.
Bagi penderita penyakit Graves,
berikut adalah cara untuk meringankan gejala yang muncul pada kulit atau mata:
Menggunakan kacamata hitam agar
terhindar dari panas atau angin kencang
Mengompres mata dengan air dingin
untuk melembabkannya
Meneteskan tetes air mata sebagai
pelumas mata untuk menekan rasa gatal atau kering di mata
Meninggikan kepala dari badan
untuk mengurangi tekanan pada mata
Menggunakan krim oles (topikal)
seperti hydrocortisone untuk mengurangi gejala kemerahan dan inflamasi pada
kulit.
Komplikasi Akibat Hipertiroidisme
Seorang penderita hipertiroidisme
berisiko mengalami komplikasi apabila kondisinya tidak ditangani.
Berikut ini beberapa komplikasi
yang mungkin terjadi:
Oftalmopati Graves. Gangguan mata
ini disebabkan oleh penyakit Graves. Gejala yang bisa muncul meliputi mata
kering atau mengeluarkan air mata berlebihan, penglihatan kabur, mata bengkak,
dan sensitivitas berlebihan terhadap cahaya.
Keguguran dan preeklampsia.
Wanita hamil dengan riwayat penyakit Graves atau yang menderita hipertiroidisme
lebih berisiko mengalami komplikasi seperti keguguran, preeklampsia dan
eklampsia (kejang-kejang pada masa kehamilan), kelahiran prematur, serta bayi
dengan berat badan lahir rendah.
Hipotiroidisme. Dampak dari
pengobatan terhadap hipertiroidisme adalah kelenjar tiroid menghasilkan terlalu
sedikit hormon tiroksin dan triiodotironin. Sebagai akibatnya, terjadilah
hipotiroidisme. Beberapa gejala hipotiroidisme adalah kelelahan berlebihan,
konstipasi, sensitif terhadap dingin, depresi, dan peningkatan berat badan.
Badai tiroid (thyroid storm). Ini
adalah kondisi munculnya gejala yang parah dan tiba-tiba akibat sistem
metabolisme yang berjalan terlalu cepat. Ini bisa terjadi ketika
hipertiroidisme tidak ditangani atau tidak terdiagnosis. Selain itu, badai
tiroid bisa terjadi karena beberapa hal, misalnya infeksi, kehamilan, tidak
mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter, dan kerusakan kelenjar tiroid akibat cedera
pada leher. Badai tiroid merupakan kondisi darurat yang membutuhkan penanganan
medis segera. Beberapa gejalanya meliputi nyeri dada, diare, demam, menggigil,
merasa ketakutan dan kebingungan, kuning pada kulit dan bola mata.
Gangguan jantung, seperti detak
jantung cepat, kelainan irama jantung, dan gagal jantung.
Osteoporosis atau tulang rapuh.
Kekuatan tulang bergantung kepada jumlah kalsium dan mineral lain di dalamnya.
Tubuh akan kesulitan memasukkan kalsium ke dalam tulang ketika terganggu dengan
banyaknya hormon yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid.
Gejala Hipertiroidisme
Tiroid adalah kelenjar di bagian
depan leher yang mengendalikan metabolisme dan fungsi normal tubuh, seperti
mengubah makanan menjadi energi, mengatur suhu tubuh, dan mempengaruhi denyut
jantung, otot, juga tulang. Percepatan metabolisme akibat hipertiroidisme bisa
menimbulkan berbagai macam gejala pada tubuh manusia. Tiap penderita bisa
mengalami tingkat keparahan, jangkauan, dan frekuensi gejala yang berbeda-beda.
Gejala yang umumnya ditemukan
pada penderita hipertiroidisme adalah:
- Berat badan turun tanpa alasan yang jelas.
- Hiperaktif. Penderita menjadi tidak akan bisa diam dan dipenuhi perasaan cemas.
- Mudah marah dan emosional.
- Insomnia atau kesulitan untuk tidur pada malam hari.
- Konsentrasi menurun.
- Berkeringat secara berlebihan dan sensitif terhadap suhu panas.
- Libido menurun.
- Otot terasa lemas.
- Diare.
- Kemandulan.
- Siklus menstruasi menjadi tidak teratur, jarang, atau berhenti sekaligus.
- Pada penderita diabetes, hipertiroidisme bisa menyebabkan rasa haus dan sangat lelah.
Selain itu terdapat juga tanda
klinis atau gejala lain yang mungkin dapat ditemukan pada penderita
hipertiroidisme, antara lain:
- Pembesaran kelenjar tiroid yang menyebabkan terjadinya pembengkakan pada leher.
- Palpitasi atau denyut jantung yang cepat dan/atau tidak beraturan.
- Kulit yang hangat dan lembap.
- Kedutan otot.
- Tremor atau gemetaran.
- Munculnya biduran (urtikaria) atau ruam.
- Rambut rontok secara tidak merata.
- Telapak tangan berwarna kemerahan.
- Struktur kuku melonggar.
- Awalnya gejala yang muncul mungkin bersifat ringan, tapi ketika kadar tiroksin dalam darah meningkat, gejala akan bertambah parah.
Cara agar mencegah terjadinya Hipertiroid kita harus
pandai-pandai menjaga kesehatan kita
Tidak hanya rajin berolahraga saja namun tubuh kita juga
harus cukup asupan gizinya.
SOP 100+ dari AFC Life Science adalah suplemen oligopeptida
salmon pertama di dunia yang diproduksi dengan menggunakan nano teknologi
terkini di bidang kesehatandari Jepang, Teknologi Degradasi Biologis Enzim,
yang mana teknologi hidrolisis unik tersebut dipatenkan (Japanese Patent No.
3691497).
Salmon Ovary Peptide 100+ sudah memiliki no BPOM : ML
830531001482
AFC SOP100+ memiliki 3 patent:
Patent No. 1 - Cell Regeneration Effect (JP-3946238)
Membantu Memperbaiki sel dan mengaktifkan kembali sel-sel
yang tidur
Tubuh manusia memilik ratusan jenis sel yang berbeda yang
penting untuk kesehatan kita setiap hari. Sel-sel ini bertanggung jawab untuk
menjaga tubuh kita bekerja setiap harinya, seperti membuat jantung kita
berdetak, otak kita berpikir, ginjal membersihkan darah kita, mengganti kulit
yang terkelupas, dan seterusnya. Tugas khusus dari stem cell Salmon adalah
untuk menciptakan berbagai jenis sel tersebut. Kandungan SOP100+ adalah
membantu meregenerasi sel-sel baru.
Patent No. 2 - Effect
in Improvement Blood Circulation (JP-3946239)
Efek dalam Perbaikan sirkulasi pembuluh darah.
Penelitian menunjukkan bahwa pembuluh darah penuh lemak
adalah hal utama yang menyebabkan penyakit komplikasi pada organ tubuh seperti
kolestrol, gangguan jantung dan darah tinggi. SOP100+ berfungsi membersihkan
pembuluh darah Anda.
Mengapa kita bisa percaya dengan keunggulan Salmon Ovary
Peptide 100+?
Karena SOP 100+ Memiliki 3 patent atas efek dari produk
Salmon Ovary Peptide (Membersihkan pembuluh darah, meregenerasi sel sel baru,
dan memperbaharui kulit)
Memiliki uji klinis atas produknya, bukan hanya uji klinis
untuk masing-masing kandungan bahannya seperti produk - produk lain yang
beredar di pasaran.
100% buatan Jepang yang sudah terkenal dengan kontrol
kualitasnya, sementara di pasaran beredar produk-produk lokal lain masih
diproduksi di pabrik lokal yang terkadang kontrol kualitasnya diragukan.
Menggunakan bahan baku dari telor Salmon langka dari Jepang
yang dikontrol ketat kualitasnya.
Untuk kesehatan badan dan kecantikan kulit mari konsumsi
Salmon Ovary Peptide 100+ - 100% Made in Japan
Harga 1 box isi 28 sachet. Rp 1.490.000
Isi sachet berupa serbuk yang mudah diminum kapan saja.
Mau CANTIK? Mau SEHAT? Wujudkan melalui AFC Life Science
Indonesia.
Fast response: hubungi kami di whatsapp/ sms di
0857-7361-4609, 0856-9281-9898


Tidak ada komentar:
Posting Komentar